Traktor Perahu Listrik ITS Menembus Gambut, Siap Bantu Petani Institut Teknologi Sepuluh Nopember memperkenalkan traktor perahu listrik yang dirancang untuk membantu pengolahan lahan gambut dan kawasan pertanian basah. Kendaraan buatan tim Science Techno Park Otomotif ITS tersebut menggabungkan sistem flotasi, mekanisasi pertanian, dan penggerak listrik agar dapat membawa alat bajak tanpa mudah terbenam di tanah lunak.
Prototipe ini diuji di area lahan basah di lingkungan Kampus ITS, Surabaya, pada 14 Juli 2026. Rektor ITS Prof Bambang Pramujati mencoba langsung kendaraan tersebut bersama tim peneliti. Pengujian menjadi tahapan penting sebelum alat dibawa ke wilayah pertanian dengan kondisi tanah, genangan, dan beban kerja yang lebih beragam.
Lahan Gambut Menjadi Tantangan bagi Mekanisasi Pertanian
Lahan gambut memiliki sifat berbeda dari tanah mineral yang umum ditemukan di sawah irigasi. Permukaannya dapat terlihat padat, tetapi lapisan di bawahnya mempunyai daya dukung rendah. Kandungan bahan organik serta air yang tinggi membuat kendaraan berat mudah amblas apabila tekanan pada tanah terlalu besar.
Publikasi teknis Kementerian Pertanian menyebut penggunaan traktor konvensional tidak disarankan pada gambut dengan ketebalan lebih dari 25 sentimeter. Kondisi tanah yang terlalu lunak dapat mengurangi daya cengkeram roda, menyulitkan pergerakan, serta meningkatkan risiko traktor terjebak di tengah lahan.
Masalah lainnya muncul ketika petani harus memindahkan mesin dari satu petak menuju petak lain. Saluran air, jalan usaha tani yang sempit, serta tidak tersedianya jembatan penghubung dapat memperpanjang waktu kerja. Mesin yang sesuai untuk tanah kering belum tentu dapat bergerak dengan aman di area rawa atau gambut.
Kondisi tersebut mendorong perlunya alat dengan tekanan permukaan rendah. Mesin tetap harus mempunyai tenaga besar untuk menarik bajak, tetapi beratnya perlu disebarkan pada bidang yang lebih luas agar tidak menekan satu titik tanah secara berlebihan.
Bentuk Perahu Dipilih agar Tidak Mudah Tenggelam
Traktor ITS mempunyai badan lebar yang menyerupai lambung perahu. Rancangan itu membantu menyebarkan beban kendaraan ketika melintasi tanah berlumpur atau tergenang. Bentuk tersebut berbeda dari traktor roda empat biasa yang sebagian besar bebannya bertumpu pada empat roda dengan bidang sentuh terbatas.
Prinsip flotasi membuat kendaraan seolah mengapung di atas lapisan tanah basah. Traktor tidak benar benar berlayar seperti perahu di perairan dalam, tetapi badannya dirancang untuk menghadapi permukaan yang memiliki daya dukung rendah. Kementerian Pertanian juga menyebut perangkat ini sebagai traktor amfibi karena dapat digunakan di lahan darat dan rawa.
Penggunaan badan lebar juga memberi ruang untuk menempatkan baterai, motor, sistem kendali, dan perangkat elektronik. Penempatan setiap komponen perlu diatur agar titik berat tetap seimbang. Apabila beban terlalu terkumpul di bagian depan atau belakang, kendaraan dapat sulit diarahkan ketika membawa alat bajak.
“Rancangan traktor perahu menunjukkan bahwa mekanisasi tidak dapat memakai satu jenis mesin untuk seluruh wilayah. Teknologi harus mengikuti sifat tanah serta pola kerja petani.”
Motor Listrik 10 kW Mengutamakan Torsi
Tim ITS memasang motor listrik berdaya sekitar 10 kilowatt. Pengembang tidak mengejar kecepatan tinggi karena pekerjaan utama kendaraan adalah membajak dan menggemburkan tanah. Kebutuhan terbesarnya berada pada torsi yang kuat sejak kendaraan mulai bergerak.
Motor listrik mempunyai karakter tenaga yang sesuai untuk pekerjaan tersebut. Torsi dapat muncul segera setelah pengemudi menekan kendali akselerasi. Traktor tidak harus menunggu putaran mesin meningkat seperti pada beberapa mesin pembakaran sebelum memperoleh tarikan yang dibutuhkan.
Prof Bambang Sudarmanta selaku ketua tim peneliti menjelaskan bahwa respons tenaga langsung menjadi salah satu keunggulan sistem listrik. Tenaga tersebut digunakan untuk menjaga kendaraan tetap bergerak ketika bajak menghadapi lumpur, sisa tanaman, atau tanah dengan tahanan lebih besar.
Tenaga 10 kW tidak dapat dinilai hanya dengan membandingkannya terhadap kendaraan penumpang. Traktor bekerja pada kecepatan rendah dengan rasio penggerak yang disesuaikan untuk tarikan. Pengaturan motor, transmisi, roda penggerak, dan lebar alat bajak menentukan kemampuan sebenarnya saat berada di lahan.
Baterai Bisa Menopang Operasi hingga Empat Jam
Sistem kelistrikan traktor bekerja pada tegangan sekitar 72 volt. Baterainya mempunyai kapasitas 140 ampere hour, sementara arus operasi yang disebutkan tim berada di sekitar 32 ampere. Dengan susunan tersebut, kendaraan diperkirakan dapat bekerja selama tiga sampai empat jam ketika baterai berada dalam kondisi penuh.
Durasi operasional dapat berubah sesuai kondisi tanah dan beban alat. Lumpur yang lebih dalam, bajak yang tertahan, serta kebutuhan berbelok berulang dapat meningkatkan pemakaian energi. Kondisi baterai, suhu lingkungan, keterampilan operator, dan usia komponen juga menentukan lamanya kendaraan dapat bekerja.
Sumber listrik menjadi salah satu alasan tim memilih penggerak elektrik. Pengisian dapat dilakukan melalui jaringan listrik yang tersedia di permukiman. Petani tidak perlu membawa solar atau bensin dalam jumlah besar menuju lokasi yang sulit dijangkau.
Walau demikian, penerapan di daerah tetap membutuhkan perencanaan pengisian. Kelompok tani perlu mengetahui lama pengisian, kapasitas jaringan setempat, lokasi penyimpanan alat, dan jadwal penggunaan oleh setiap anggota. Sistem pengisian berbasis panel surya juga dapat dipelajari untuk wilayah yang pasokan listriknya belum stabil.
Satu Kali Pengisian Diperkirakan Mampu Mengolah Satu Hektare
Tim ITS melakukan simulasi pada lahan seluas satu hektare dengan ukuran 100 meter kali 100 meter. Traktor membawa bajak selebar 1,8 meter dan membutuhkan sekitar 56 lintasan untuk mencakup seluruh bagian lahan.
Apabila setiap lintasan menempuh panjang 100 meter, total perjalanan lurus mencapai sekitar 5,6 kilometer. Perhitungan tersebut belum sepenuhnya menggambarkan gerakan saat berbelok, menghindari rintangan, atau kembali ke jalur berikutnya. Meski demikian, hasil simulasi digunakan sebagai dasar perkiraan bahwa satu kali pengisian dapat menangani satu hektare.
Kecepatan kerja nantinya perlu dibandingkan dengan metode yang saat ini digunakan petani. Penilaian bukan hanya melihat luas lahan yang dapat dibajak, tetapi juga waktu persiapan, pergantian alat, pengisian baterai, biaya operator, dan waktu pemindahan kendaraan.
Pengujian di beberapa jenis gambut juga diperlukan. Gambut dangkal, gambut tebal, rawa pasang surut, dan lahan dengan sisa akar mempunyai karakter yang tidak sama. Kemampuan satu unit di area kampus belum otomatis menggambarkan hasil pada seluruh wilayah.
Panel Elektronik Membantu Operator Mengawasi Mesin
Traktor perahu listrik dilengkapi layar elektronik untuk menampilkan kondisi baterai dan tegangan. Sistem juga memiliki pengontrol suhu agar operator dapat mengetahui apabila komponen bekerja terlalu panas.
Informasi tersebut penting karena motor dan baterai dapat menerima beban tinggi ketika traktor menarik bajak. Operator harus dapat melihat sisa energi sebelum masuk terlalu jauh ke tengah lahan. Kendaraan yang kehabisan daya di area berlumpur akan lebih sulit dievakuasi dibandingkan kendaraan yang berhenti di jalan biasa.
Tampilan suhu membantu operator memutuskan kapan alat perlu dihentikan sementara. Peringatan lebih awal juga dapat mencegah kerusakan motor, pengendali daya, kabel, atau baterai. Sistem perlu memakai simbol yang sederhana agar dapat dipahami tanpa pelatihan elektronik yang rumit.
Selain layar pada kendaraan, pengembangan berikutnya dapat mencakup pencatatan jam kerja, konsumsi energi, luas lahan, dan riwayat suhu. Data tersebut berguna untuk menyusun jadwal perawatan serta membandingkan kinerja antarwilayah.
Panas Berlebih Ditemukan saat Pengujian Sawah
Tim peneliti tidak menutupi kendala yang muncul selama pengembangan. Dalam uji coba sebelumnya di sawah, sistem mengalami panas berlebih. Temuan tersebut mendorong penambahan perangkat pendingin sebagai komponen baru.
Panas dapat muncul ketika motor terus bekerja pada beban tinggi dengan kecepatan rendah. Aliran udara pada kendaraan yang bergerak pelan juga tidak sebesar kendaraan jalan raya. Lumpur, air, dan sisa tanaman dapat mempersempit ruang di sekitar komponen apabila perlindungan tidak disusun dengan baik.
Sistem pendingin perlu dirancang tanpa membuka celah bagi air dan kotoran. Kabel, konektor, kotak baterai, serta pengendali motor harus memiliki perlindungan sesuai dengan kondisi pertanian. Pemeriksaan setelah penggunaan juga harus mudah dilakukan oleh teknisi di daerah.
Temuan panas berlebih memperlihatkan pentingnya uji kerja dalam durasi panjang. Mesin dapat terlihat baik ketika dicoba beberapa menit, tetapi persoalan baru muncul setelah motor menanggung beban terus menerus selama berjam jam.
Ban Karet Memudahkan Perpindahan di Jalan
Walaupun badannya menyerupai perahu, traktor ITS tetap memakai ban karet. Penggunaan ban memungkinkan kendaraan bergerak di jalan usaha tani dan berpindah dari tempat penyimpanan menuju lahan tanpa harus selalu diangkut memakai kendaraan lain.
Kemampuan berpindah sendiri dapat mengurangi waktu persiapan. Petani tidak perlu memasang alat tambahan setiap kali traktor keluar dari sawah. Namun, ukuran dan pola tapak ban harus mampu memenuhi dua kebutuhan yang berbeda, yaitu bergerak di jalan keras dan menghasilkan traksi di tanah basah.
Tekanan ban juga perlu disesuaikan. Ban yang terlalu keras dapat meningkatkan tekanan pada permukaan gambut, sedangkan tekanan terlalu rendah berisiko mengganggu kendali di jalan. Tim pengembang perlu menentukan batas beban dan tekanan berdasarkan kondisi penggunaan.
Kecepatan di jalan harus dibatasi karena traktor dirancang untuk tarikan, bukan perjalanan cepat. Posisi badan yang lebar juga membutuhkan perhatian ketika melewati jalan sempit, jembatan kecil, atau berpapasan dengan kendaraan lain.
Penggerak Listrik Berpeluang Menekan Biaya Kerja
Tim ITS menilai biaya energi listrik lebih rendah dibandingkan penggunaan bensin atau solar pada traktor konvensional. Mesin listrik juga mempunyai lebih sedikit komponen bergerak karena tidak membutuhkan sistem pembakaran, knalpot, tangki bahan bakar, dan pelumasan mesin seperti motor diesel.
Penghematan sebenarnya perlu dihitung berdasarkan tarif listrik, harga baterai, umur komponen, luas lahan, serta jumlah pemakaian dalam satu musim. Biaya pembelian awal juga harus dimasukkan agar petani dapat mengetahui waktu yang dibutuhkan sampai investasi kembali.
Sistem kepemilikan bersama melalui kelompok tani, koperasi, atau unit jasa alat mesin pertanian dapat menjadi pilihan. Satu unit dapat melayani beberapa petak dengan jadwal teratur sehingga tingkat pemanfaatannya lebih tinggi daripada alat yang hanya digunakan oleh satu pemilik.
“Harga alat bukan satu satunya ukuran. Petani memerlukan kepastian bahwa suku cadang tersedia, baterai dapat diganti, teknisi mudah dihubungi, dan mesin tidak lama berhenti ketika mengalami gangguan.”
Tekanan ke Tanah Perlu Terus Diukur
Keunggulan bentuk perahu berkaitan dengan kemampuannya menyebarkan beban. Tim peneliti menyatakan sistem tersebut diarahkan untuk mengurangi kerusakan struktur tanah saat traktor bekerja di lahan basah.
Pengujian lanjutan perlu mengukur tekanan permukaan kendaraan, kedalaman jejak, penurunan tanah, dan perubahan kepadatan setelah beberapa lintasan. Hasilnya dapat dibandingkan dengan traktor roda dua, traktor roda empat, alat berantai, dan pengolahan memakai tenaga manusia.
Perlindungan lahan gambut tidak berhenti pada pemilihan kendaraan. Pengaturan muka air tetap menjadi bagian utama karena gambut yang terlalu kering berisiko mengalami penurunan permukaan serta kebakaran. Pengolahan tanah juga harus disesuaikan dengan tanaman, kedalaman gambut, dan sistem tata air.
Traktor perahu listrik lebih tepat diposisikan sebagai salah satu perangkat dalam pengelolaan pertanian lahan basah. Penggunaannya perlu mengikuti rekomendasi ahli tanah dan kebutuhan budi daya di wilayah setempat.
Kementerian Pertanian Menaruh Perhatian pada Inovasi ITS
Traktor listrik ITS telah menarik perhatian Kementerian Pertanian. Pada April 2026, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman meminta 10 unit untuk menjalani uji coba. Pemerintah menilai sistem listrik dapat mengurangi ketergantungan alat pertanian terhadap solar dan bensin.
Kementerian Pertanian kembali meninjau inovasi ITS pada Juli 2026. Dalam kunjungan tersebut, pemerintah menyebut kendaraan itu sebagai traktor amfibi yang dapat bekerja di lahan kering dan rawa. ITS menyatakan akan menggandeng industri apabila hasil pengujian lapangan memenuhi kebutuhan petani.
Keterlibatan pemerintah memberi peluang uji coba dilakukan di daerah dengan kondisi nyata. Data dari beberapa provinsi akan membantu tim mengetahui kekuatan rangka, kebutuhan energi, kemampuan bajak, serta kendala operator.
Uji coba bersama petani juga penting agar pengembangan tidak hanya berpusat pada ukuran teknis. Posisi kursi, kemudahan naik ke kendaraan, jangkauan tuas, keterbacaan layar, dan proses membersihkan lumpur perlu dinilai oleh orang yang akan menggunakannya setiap hari.
Listrik Masuk Sawah Mendukung Penggunaan Alat Elektrik
Penerapan traktor elektrik membutuhkan jaringan pengisian yang dekat dengan lahan. Kementerian Pertanian dan PLN sedang menjalankan program Listrik Masuk Sawah untuk memperluas penggunaan energi listrik dalam kegiatan pertanian, terutama untuk sistem irigasi dan perpompaan.
Hingga pertengahan 2026, PLN telah menindaklanjuti ribuan usulan elektrifikasi pertanian dan menyediakan akses listrik pada 1.773 lokasi. Program tersebut difokuskan pada provinsi yang mempunyai kontribusi besar terhadap luas tanam nasional.
Jaringan yang awalnya digunakan untuk pompa dapat dikembangkan untuk mengisi baterai alat pertanian, asalkan kapasitas, keamanan, dan tata kelola penggunaannya mencukupi. Tempat pengisian harus terlindung dari hujan, genangan, serta risiko korsleting.
Kelompok tani juga perlu mendapatkan pelatihan mengenai kabel, konektor, pengisian aman, dan penyimpanan baterai. Peralatan listrik yang bekerja di sekitar air membutuhkan standar lebih ketat daripada perangkat yang digunakan di bangunan kering.
Produksi Massal Memerlukan Mitra Industri
Prototipe kampus masih memerlukan pengujian sebelum masuk ke jalur produksi besar. Setiap komponen harus mempunyai spesifikasi tetap agar kualitas satu unit tidak berbeda jauh dari unit lainnya. Rangka, sistem kelistrikan, baterai, motor, pendingin, kemudi, dan alat bajak harus melewati pemeriksaan ketahanan.
Mitra industri dibutuhkan untuk menyiapkan fasilitas produksi, pemasok komponen, layanan garansi, serta jaringan perbaikan. Tingkat penggunaan komponen dalam negeri juga perlu diperbesar agar biaya tidak terlalu dipengaruhi perubahan harga barang impor.
Desain harus dibuat mudah dirawat. Teknisi daerah memerlukan buku servis, alat diagnosis, daftar suku cadang, dan pelatihan khusus. Komponen yang sering bersentuhan dengan air serta lumpur perlu dapat dilepas tanpa membongkar seluruh badan kendaraan.
Tim ITS masih menjalankan pengembangan dan validasi, termasuk menguji sistem pendingin yang ditambahkan setelah temuan panas berlebih. Tahapan berikutnya akan menentukan kemampuan traktor menanggung penggunaan berulang, bekerja pada berbagai kedalaman lumpur, serta mengolah satu hektare sesuai estimasi tanpa kehilangan tenaga di tengah pekerjaan.






