Singkong (Manihot esculenta) merupakan salah satu tanaman pangan yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan mudah dibudidayakan. Dengan daya tahan terhadap kondisi tanah yang kurang subur serta kebutuhan air yang relatif sedikit, singkong menjadi pilihan menarik bagi petani, baik skala kecil maupun besar. Untuk mencapai hasil panen optimal, dibutuhkan pemahaman yang mendalam mengenai teknik budidaya, mulai dari persiapan lahan hingga panen. Artikel ini akan membahas secara mendalam tentang cara budidaya singkong yang benar serta perhitungan biaya tanam per hektar.
Persiapan Lahan untuk Budidaya Singkong
Sebelum menanam singkong, langkah pertama yang harus dilakukan adalah mempersiapkan lahan dengan baik. Lahan yang subur, kaya akan bahan organik, dan memiliki drainase yang baik akan menghasilkan produksi singkong yang lebih tinggi.
1. Pemilihan Lokasi dan Jenis Tanah
Singkong dapat tumbuh di berbagai jenis tanah, tetapi jenis tanah yang paling ideal adalah tanah yang gembur, memiliki pH antara 5,5 – 6,5, serta kaya akan unsur hara. Tanah berpasir atau lempung berpasir yang memiliki drainase baik juga sangat cocok untuk budidaya singkong.
2. Pengolahan Tanah
Pengolahan tanah melibatkan beberapa tahap penting:
- Pembajakan atau pencangkulan untuk menggemburkan tanah.
- Pembersihan gulma dan sisa tanaman lain agar tanaman singkong tidak terganggu oleh kompetisi nutrisi.
- Pembuatan bedengan atau guludan dengan tinggi sekitar 20-30 cm dan lebar 50-100 cm untuk meningkatkan aerasi tanah dan mencegah genangan air.
3. Pemupukan Dasar
Pemupukan awal bertujuan untuk memperkaya kandungan unsur hara tanah. Pemupukan dapat menggunakan pupuk kandang atau pupuk kompos sebanyak 1-2 ton per hektar, serta ditambah pupuk NPK dengan dosis 100-150 kg per hektar.
Cara Menanam Singkong yang Benar
Setelah lahan siap, langkah selanjutnya adalah melakukan penanaman dengan metode yang tepat agar singkong dapat tumbuh secara optimal.
1. Pemilihan Bibit Unggul
Bibit yang berkualitas sangat menentukan hasil panen. Pilih batang singkong yang sehat, memiliki diameter 2-3 cm, serta berumur 8-12 bulan. Potong batang menjadi stek sepanjang 20-25 cm.
2. Teknik Penanaman
Teknik penanaman yang baik akan memastikan pertumbuhan tanaman yang sehat:
- Jarak Tanam: 80 cm x 100 cm atau 100 cm x 100 cm agar tanaman memiliki ruang yang cukup untuk tumbuh.
- Posisi Stek: Tanam stek dengan kedalaman 5-10 cm dengan posisi tegak, miring, atau tidur sesuai kondisi lahan.
- Waktu Tanam: Waktu tanam terbaik adalah pada awal musim hujan agar tanaman mendapatkan cukup air untuk awal pertumbuhannya.

Perawatan Tanaman Singkong
Agar tanaman singkong dapat tumbuh optimal dan menghasilkan umbi yang berkualitas, diperlukan perawatan yang baik, meliputi penyulaman, penyiangan, pemupukan susulan, serta pengendalian hama dan penyakit.
1. Penyulaman
Penyulaman dilakukan sekitar 2-3 minggu setelah tanam untuk mengganti bibit yang mati atau tidak tumbuh dengan baik.
2. Penyiangan
Penyiangan gulma perlu dilakukan secara rutin setiap 1-2 bulan sekali agar singkong tidak terganggu dalam menyerap nutrisi dari tanah.
3. Pemupukan Susulan
Pemupukan susulan dilakukan sebanyak 2-3 kali dalam satu siklus pertumbuhan:
- Pupuk NPK diberikan setelah tanaman berumur 1 bulan.
- Pupuk tambahan seperti pupuk KCl bisa diberikan setelah 3-4 bulan untuk meningkatkan kualitas umbi.
4. Pengendalian Hama dan Penyakit
Beberapa hama dan penyakit yang sering menyerang singkong antara lain:
- Ulat grayak yang menyerang daun singkong.
- Tungau merah yang menyebabkan daun mengering.
- Busuk batang yang disebabkan oleh jamur.
Pengendalian dapat dilakukan secara mekanis dengan memangkas bagian yang terserang atau menggunakan pestisida nabati dan kimiawi sesuai dosis yang dianjurkan.
Panen dan Pascapanen
Panen singkong biasanya dilakukan pada usia 8-12 bulan, tergantung pada varietasnya. Ciri-ciri singkong siap panen adalah daunnya mulai menguning dan rontok serta umbi membesar dengan kulit luar yang agak pecah.
Cara Panen
Panen dilakukan dengan cara mencabut batang lalu menggali umbi secara hati-hati agar tidak rusak. Setelah dipanen, umbi dapat langsung dipasarkan atau diolah lebih lanjut.
Penyimpanan dan Pengolahan
Singkong segar sebaiknya segera diolah atau dijual, karena mudah mengalami penurunan kualitas. Penyimpanan dapat dilakukan di tempat yang sejuk dan kering untuk menghindari pembusukan.

Biaya Tanam Singkong per Hektar
Berikut adalah estimasi biaya yang diperlukan untuk budidaya singkong di lahan 1 hektar:
Komponen | Biaya Perkiraan (IDR) |
---|---|
Pengolahan lahan | 3.000.000 |
Pembelian bibit | 2.500.000 |
Pupuk dasar | 3.000.000 |
Pupuk susulan | 2.500.000 |
Biaya tenaga kerja | 4.000.000 |
Penyemprotan hama | 1.500.000 |
Panen dan transportasi | 3.000.000 |
Total | 19.500.000 |
Biaya ini dapat bervariasi tergantung pada lokasi, harga pupuk, serta skala produksi yang dijalankan. Dengan hasil panen sekitar 30-40 ton per hektar dan harga jual Rp1.500 per kg, petani dapat memperoleh keuntungan yang cukup besar.
Estimasi Modal dan Pendapatan per Hektar
Untuk mendapatkan gambaran lebih jelas, berikut adalah estimasi modal dan pendapatan budidaya singkong per hektar:
- Modal awal: Rp19.500.000
- Produksi panen: 30-40 ton singkong per hektar
- Harga jual per kg: Rp1.500
- Total pendapatan: Rp45.000.000 – Rp60.000.000
- Keuntungan bersih: Rp25.500.000 – Rp40.500.000 per hektar
Usaha yang menjanjikan dengan modal relatif rendah
Budidaya singkong merupakan usaha yang menjanjikan dengan modal yang relatif rendah dibandingkan tanaman lain. Dengan teknik budidaya yang tepat, pemilihan bibit unggul, serta perawatan yang baik, hasil panen dapat mencapai produktivitas tinggi. Ditambah dengan manajemen biaya yang efisien, petani bisa meraih keuntungan maksimal dari usaha budidaya singkong.